Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 04 Maret 2014

Goyang Pantura bersama Nusantara NS 01 the Super Bus

Yuhu ... ketemu lagi dengan trip repot saya... :p Beberapa waktu lalu saya sudah mengalami perjalanan yang cukup panjang yaitu Keliling Jawa mengunakan kereta api. Nah kali agak sedikit berbeda, Saya baru saja melakukan perjalanan yang wajib untuk dibuat trip repot. Bukan tentang explore tapi lebih “RACE”. Yup bener sekali, kali ini touring saya bertemakan Race dalam lintasan Pantura. Seperti apa repotnya? Set your belt and bring the action... :D



Sekitar satu bulan sebelumnya, Saya mendapat tawaran dari temen saya Yohanes Prabowo dan Paulus Akwa yang mana mereka penggemar touring. Tawarannya sih simple, “yuk ke JKT” cuman kali ini agak beda. Kalo seperti biasa saya kelayapan memanfaatkan kereta api, kini selingkuh ke roda enam. Yup, ke JKTnya naik bis. But it’s not just a bus, it’s SCANIA bus. Powered by SCANIA dengan type K380ib yang mana memiliki tenaga yang lebih besar dari bis- bis lain. Eeerr.... sekilas saya sih agak ragu, tapi setelah saya pikir-pikir, kapan lagi coba? Beberapa waktu yang lalu juga sudah gagal menikmati pantura, sekarang ada kesempatan. OK i take that chance.




Sebulan sebelumnya telah dipesankan melalui Yohanes Prabowo panggil saja mas Bowo, tiket bus untuk menuju JKT. Bus yang kami naiki adalah sebuah PO yang sudah tak asing lagi di kalangan penggemar bis, yup that is Nusantara. Untuk kelas yang diambil juga gak tanggung-tanggung, SUPER EKSEKUTIF dengan kode perjalanan NS 01. Alasan kenapa pesan tiketnya sekitar sebulan sebelumnya hanyalah untuk mendapatkan posisi HOTSEAT deretan kursi paling depan agar bisa lebh mantab menikmati bioskop Pantura. Tarif yang dikeluarkan emang agak mahal sih IDR 225.000 dari Kudus tujuan Jakarta.

Tepat tanggal 10 Desember 2013,  yaitu hari dimana saya melakukan perjalanan perdana mengarungi pantura. Pagi hari saya sudah siap siap senjata dan amunisi (baca: camera dan perlengkapannya). Rencana awal, emang berangkat barengan tapi ga taunya mas Bowo dan mas Acka ada urusan jadinya saya berangkat duluan, nanti ketemu on the spot. Perjalanan menuju Kudus pun diawali. Saya pun menuju Giwangan, meski sebenarnya ada bis langsung tujuan Semarang – Kudus, namun saya mencoba untuk selo dengan sedikit ngecer. Awalnya saya menunggang bis paling fenomenal se-Jalur Selatan bagian timur yaitu Sumber Group berikut penampakannya


Sumber Selamat Discovery version W 7078 UZ

Menuju Solo bersama bis langganan saya. Sepanjang perjalanan saya manfaatkan untuk menyimpan energi agar tetap fit saat berpantura, tak lupa saya juga berbekal vitamin C. Sepanjang JOGLO (baca: Jogja - Solo) hanya terlelap saja. Maklum perjalanan pagi tidak ada lawan yang berarti, hanya truk-truk pasir dan mobil yang memenuhi jalan raya -_-. Akhirnya mendarat di Solo pukul 11.40 masih ada waktu buat ke toilet, dan sholat. Habis itu langsung menuju pemberangkatan bis Solo Barat. Langsung deh siap di jalur keberangkatan. PO Safari, tanpa pikir panjang saya pun langsung naik. Dapet hot-seat sih, tapi ingat tujuan awal, jaga stamina buat malamnya, hehehe




Yah sepanjang jalan cuma melongo sesekali tidur, bangun eh udah nyampe Salatiga. Dapet sms dari mas Wo, “sudah sampai Ungaran” walah saya aja masih di Salatiga. Memang sepanjang perjalanan Solo – Semarang cukup lama karena taspat dan banyaknya kendaraan.



Safari AC LUX

Pukul 15.00 tepat saya mendarat di Terboyo, cuman ga masuk ke dalem. Di sinilah check point kami. Sembari menunggu mas acka yang masih dalam perjalanan. Kami pun sekedar jajan di tepi jalan. Eh nongol PO Haryanto The Unicorn. Salah satu pejuang pantura yang udah terkenal. Sesekali melihat Nusantara jadul masih jalan aja, walau hanya Semarang – Kudus. Setalah cukap lama dan kami pun berkumpul, pas sekali bus yang dicari nongol. Yup Nusantara jadul lokalan tujuan Kudus pun sudah siap. Naiklah kami, barengan dengan para karyawan pabrik dan kantor yang pulang ke Kudus. Okupansinya juga lumayan lah untuk ukuran bis lokalan.




Sesampainya di depan garasi Karanganyar, kami turun dan langsung menuju ruang tunggu keberangkatan. Masih sepi sih, belum ada bus yang datang. Akhirnya kami memutuskan untuk jajan dulu di warung depan. Waktu sholat Maghrib tiba, saatnya sholat karena mengadakan perjalanan saya jama’ saja. Seusai ibadah, langsung menuju ruang pemberangkatan, dan bus pun sudah siap. Barisan Super Eksekutif sudah datang menunggu penumpang. Mulai NS 01, NS 90, NS 04, dan NS 99 berkumpul. Sayang waktu itu kumpulan bus Eksekutif belum datang. Kali ini penumpang SE tidak terlalu banyak, maka NS 01 pun berangkat duluan. Dengan di handle oleh driver legendaris beliah Pak Tomy. Betapa terkesannya saya, this is my first time naik touring Pantura menggunakan bus mewah bertenaga besar SCANIA K380ib. Begitu keluar garasi, langsung ngacir, ibarat pesawat yang clear to take off. Wuuuuzzz..... wahaw belum apa apa sudah kerasa fly low di jalan raya. Selip kanan selip kiri dengan lihai pak Tomy membawa batangannya.


NS 01 by SCANIA | Kudus - Rawamangun - Daan Mogot

NS 04 by SCANIA | Kudus - Rawamangun - Lebakbulus

NS 90 by Hino RK Air Suspension | Kudus - Bekasi
NS 99 by SCANIA | Kudus - Bandung
Parade Super NUSANTARA
Shuttle bus from Terminal Kudus

Seru di perjalanan, saatnya istirahat makan malam di restoran mewah milik PO Nusantara. Yup this is So Tasty Resto. Service makan yang cukup mewah dan nikmat tentunya. Seusai makan, waduh gerimis, tapi tidak menyurutkan niatan saya untuk memotret walau cuma satu bis yang bandel juga, karena waktu lalu gagal naik. Tidak lain adalah NS 71 yang terkenal bandel larnya di pantura. Namun sayangnya saat NS 71 datang dan saya mendapat potretnya. NS 01 harus segera berangkat karena ya penumpangnya sedang tidak rame jadi cepet service makannya.

NS 71 by Hino RK Air Suspension | Kudus - Poris - Cimone - Tangerang
Ready to rock Pantura... lawan pertama adalah Shantika, namun jalanan cukup rame waktu itu, dan perjalanan dialihkan melalui ring road jadi berpisah dengan Shantika. Namun di depan sudah nampak NS 99, goyang kanan kiri, cukup lama juga akhirnya kesusul sesama SCANIAnya... hahaha... lawan berikutnya Shantika, Bejeu, Madu Kismo, dan Raya sekali libas terlampaui.
Sesaat agak kaget, loh di sebuah rumah makan masih berjajar Bejeu. Waduh ternyata berangkatnya terlalu awal. But it’s ok. Menjelang tanjakan plelen, masuk kanan menyalip PO Haryanto, like a boss... ya iyalah mesin tenaga gede, tanjakan mah sikat aja :D berikut video ringkasan perjalanan saya... :D
That’s my fabolous trip. Karena sudah tak banyak lawan, di daerah Cirebon saya pun tertidur. Saking nyamannya bangun bangun udah nyampe Rawamangun. Dan di sini lah finish dari perjalanan panturaan saya kali ini.

video

Overall perjalanan yang menyenangkan ini berhasil membuat saya terkesan. Seru abis. Berikut sedikit penilaian saya tentang NS 01
-          Driver yang handal
-          Service makan juga ok
-          Manuvernya dalam mendahului lawan sangat mengesankan
-          Tapi sayang keberangkatan yang terlalu awal, sehingga lawan sepadan (Muriaan) tidak bertemu
Ok itulah kesan pertama saya berpanturaan. Terimakasih udah menyimak dan membaca, tunggu trip repot saya berikutnya yang gak kalah seru yaa. See yaa... :D (wise)

Selasa, 04 Juni 2013

Trip Repot Bumi Parahyangan part 2 dan Pantura sambung Madura

Assalaamualaikum....

aloowww kawan-kawan semuaa... gimana kabarnya..?? 
kali ini saya akan menceritakan pengalaman perjalanan yang biasa disebut trip repot. Hehe, kali ini trip repot saya lumayan seru dan sedikin menegangkan lo. Kali ini saya memutari sebagian Pulau Jawa dengan sepur. Rutenya dari Jogjakarta tempat saya merantau menuju ke barat melewati lintas selatan yaitu Bandung. Sempat transit semalam di rumah teman saya yang waktu lalu juga saya inapi yaitu Alfie. Esoknya menikmati pemandangan DAOP 2 lintas barat dengan Argo Parahyangan dan malamnya ber-pantura-an bersama KA nomor 4 se-Indonesia Raya yaitu Argo Bromo Anggrek yang ternyata.... lalu mampir bentar dah ke Madeureu alias Medureh atau Madura :p. Baru kembali pulang sore harinya. Bagaimana ceritanya, yuks kita cuzz simak bareng bareng...



Prolog

Berawal dari sebuah malam yang cukup galau. Saya mendapat kabar dari teman seperjalanan saya Seto bahwa ada promo KA utara. Awalnya saya kurang berminat karena tekanan biaya yang dikeluarkan juga. Namun setelah mendapat komporan dari Seto, akhirnya saya pun meng-IYA-kan ajakannya. Tiket KA 4 kami dapatkan malam hari itu juga. Selang beberapa lama saya termenug. Padahal pengennya ke Bandung. Ke tempat si Alfie mengembalikan kotak makannya yang ketinggalan di kostan. Ada waktu sekitar dua hari untuk berlibur, lumayan lah buat explore Bandung. Namun apa boleh kata, saya harus konsisten dengan apa yang sudah saya beli dan tentukan. Akhirnya ssetelah mengalami pemikiran yang lumayan lama diputuskanlah saya harus memenuhi keduanya yaitu pergi ke Jakarta via Bandung tanpa menggugurkan kewajiban saya mengembalikan kotak makan (hayah, apalah arti kotak makan :v). Semula tiket KA Kutojaya Selatan dan Argo Parahyangan sudah saya dapetkan H-30 hari. Argo Parahyangan yang saya pesan secara tidak langsung adalah tiket pertama dan saya adalah pelanggan pertama yang membeli tiket yang masih harga normal IDR 60.000 untuk kelas Eksekutif. Selang beberapa minggu setelah saya membeli tiket Kutojaya, muncullah berbagai tiket promo ke berbagai jurusan.. huaaaa langsung serbu deh saya akhirnya dapet KA Turangga sedangkan Seto harus menggunakan KA Argo Lawu karena ia tidak ikut ke Bandung. Kutojaya Selatannya? Ya dibatalin lah, dan sampai tulisan ini dibuat uangnya belum cair T.T.

Berangkat Tengah Malam

Yogyakarta
Lobby Stasiun Yogyakarta
Hari demi hari terlalui dan tidak terasa sudah sampai hari yang ditunggu-tunggu. Saya sudah mempersiapkan semuanya, termasuk playlist mp3 mutuk menemani perjalanan. Hari itu Kamis tanggal 23 Mei 2013, setelah saya mengikuti kuliah, langsung membeli bekal makan malam. 23.30 saya tiba di Stasiun Yogyakarta dan imbas anjlog-an di Garut semalam, semua KA jadi terlambat, termasuk KA Turangga yang saya naiki. Jadwal keberangkatan 23.37 namun realita kedatangan 00.20. Begitu masuk ke kabin KA, rasanya cukup aneh. Seluruh kabin penuh akan penumpang, dan alamaak tempat saya diduduki orang. Dengan sopan saya berusaha membujuk agar saya bisa duduk sesuai tiket yaitu 7A. Dan negosiasi pun berhasil. Awal perjalanan seperti ada yang kurang. Oh iya.. baru terasa, AC di ruangan tersebut cukup pengap dan tidak terasa dingin. Hadeuh... fasilitas LCC benar-benar dirasakan sesuai dengan uang yang dikeluarkan. Semakin lama saya merasakan kurang nyaman dan kurang bisa menikmati perjalanan. Akhirnya MOD yang bertugas saya hubungi via sms, karena waktu itu seluruh crew sedang istirahat dan tidak ada aktifitas apapun di kereta makan, dan akhirnya mendapat tanggapan beberapa menit setelahnya. Namun belum terasa perubahan sedikit pun. Sebisa mungkin saya menikmati perjalanan, hingga sesampainya di Kroya, bersilang dengan KA Sawunggalih tujuan Kutoarjo. Setelah kereta diberangkatkan dan kondisi semakin lelah saya pun berusaha untuk istirahat dan menyamankan diri. 
Tuker tiket doloo....

sepi....

Papan penunjuk jalur kereta

Para penumpang yang akan naik

Bersilang dengan KA Sawunggalih di Kroya

Suasana di dalam kereta
Tak terasa pukul 04.15 saya mendengar suara adzan Subuh. Spontan saya terbangun dan merasa takjub. Ternyata KA sekelas Turangga dilengkapi fasilitas adzan Subuh untuk membangunkan penumpang. Akhirnya saya terbangun dan melaksanakan kewajiban. Kondisi saat itu menjelang stasiun Cipeundey. Sesampainya di stasiun saya langsung beraksi dengan camera kesayangan. Karena masih cukup lama, saya pergi menuju ke depan stasiun dan memotert lingkungan sekitar. Tampak warung yang cukup ramai oleh crew KA. Akhirnya ikutan nimbrung di sana, menu di warung tersebut cukup familiar, macem gorengan dan lauk pauk. Ada yang cukup unik, ternyata si akang warung menjual nasi kuning yang harganya cukup murah meriah IDR 1.000 aja untuk satu bungkusnya. Isinya sih selevel nasi kucing di angkrigan. Tapi sudah cukup dua bungkus untuk sarapan pagi. Saya cukup membayar 4000 perak sudah mendapat nasi dan jajanan. Setelah bertransaksi, saya langsung kembali ke kereta dan tak lama kemudian kereta diberangkatkan.

Selamat pagi Cipeundeuy
Masih Cipeundeuy
Masih Cipeunduey
Taman di Cipeundeuy
Sisi depan Cipeundeuy
Memang pemandangan DAOP 2 sungguh memukau dan indahnya Subhanallah apalagi di pagi hari. Sepanjang perjalanan saya manfaatkan untuk memotret dan memotret sembari menikmati pemandangan. Sesampainya di Leles dimana check point yang saya tunggu-tunggu, kereta bersilang dengan KA Pasundan. Lepas stasiun mulat tampak tanjakan di busur Leles dan waaaawww.... betapa serunya melihat sang lokomotip menggebu-gebu (tapi tidak ngebul) melawan tanjakan yang menikung dan tanjakan tajam setelah busur tersebut. Tampak dari samping pemandangan yang indahnya Subhanallah dan tidak sadar posisinya sudah berada di atas bukit, padahal tadinya sejajar dengan sawah yang berada di bawah. Selanjutnya stasiun Lebakjero pemandangannya yang tak kalah aduhainya. Sampai akhirnya melintas di jembatan favorit saya yaitu jembatan citiis, di mana kereta serasa melayang diatas jalan raya lingkar Nagreg. Capek berhunting ria saya kembali duduk dan menghabiskan waktu dengan memandang pemandangan dari jendela pesawat yang cukup kecil.
Lautan kabut

Rice field

Rice field




Lautan kabut

Dipo Cibatu





Masuk Leles





Tanjakan Leles

Tanjakan Leles yang menikung



Sudah nyampe atas... :o



Lebakjero
Jembatan Citiis
Menu Turangga
Viaduct Bandung
Dekat Kantor Pusat KAI
Kelupaan, interior Turangga
Tepat pukul 08.15 saya tiba di stasiun besar Bandung. Saya pun langsung turun dan memotret lingkungan sekitar, eh ternyata tampak KRD 1500an (karena harga tiketnya 1500 perak). Setelah memotret saya langsung menuju mushola untuk istirahat, mandi dan sholat Dhuha. Barang-barang besar saya titipkan ke petugas. Hanya bermodal tas kecil berisi camera, dompet, dan bekal sarapan yang saya beli di Cipeundeuy tadi, saya pun siap untuk perjalanan selanjutnya dengan KRD Bandung Raya atau “Sepur 1500an”.

Bandung – Padalarang – Bandung – 1.500-an

Saya sangat penasaran dengan jalur Ciroyom yang KATANYA ketika kereta lewat di jalur tersebut terasa goncangannya yang bohay menggelegar. Hal ini sudah saya rencanakan sebelumnya yaitu menunggang KA 1500an menuju Padalarang.
PKPKW
Welcome un Bandung, nongol pertama KRD 1500an arah Cicalengka
Nasi kuning 1000an yang beli di Cipeundeuy
Tampak depan KRD Ekonomi CCL-PDL
Penumpang yang naik
K3 0 76 04
Ada AC-nya looo..... :p 
Dipo Lokomotip BD
Rumah Sinyal 
KUJR
Sembari menunggu loket dibuka, sarapan dulu denganbekal tadi. 09.00 loket dibuka dan langsung diserbu para penumpang. Tak terlalu banyak yang naik, jadi ada kesempatan lah buat hunting sambil joyride-an, tak perlu khawatir desak-desakan namun tetap waspada akan kriminalitas. Tak lama kemudian kereta yang dinanti-nanti datang. Saya langsung ambil posisi di kereta 3 yang mana kereta tersebut adalah bekas KRD yang bentuknya cukup unik menurut saya. Langsung ambil posisi di dekat pintu, camera siap dan berikut videonya

Stasiun Ciroyom
Stasiun Ciroyom

TERNYATAAA..... gak begitu heboh heboh banget goncangannya -_-, tapi lumayan asik lah :3. Yang lebih asik dan lebih heboh sih terletak di lintas Ciroyom – Andir nya. Lepas PJL Andir kereta melaju dengan kencang. Pemberhentian berikutnya adalah Cimindi. Cimindi memiliki singkatan yang unik yaitu CMD kata yang sama untuk membuka Comand Prompt di komputer, hehehe.... :D.
Cimindi
Naik di Stasiun Cimindi
Stasiun Cimindi
Selanjutnya berhenti di Cimahi, disini stasiunnya cukup besar dan cukup nyaman juga. Disini banyak yang turun, jadi spontan KA jadi sepi dan mlompong alias glondangan. Lanjut menuju stasiun Gadobangkong, stasiunnya kecil dan letaknya di tengah perkampungan. Sedikit pula yang turun disini.
Name tag stasiun Cimahi
Stabling on first line of Cimahi
Ini dia stasiun Padalarang. Ah seandainya kereta Cianjuran jalan, saya pasti lanjut ke sana. Tapi sayang masih belum jalan. Saya pun turun dan memotret lingkungan sekitar. Setelah puas memotret dan berkeliling, saya langsung keluar dan membeli tiket 1500an lagi. Eh ternyata sedang ada renovasi stasiun.
Stasiun Gadobangkong
Banyak yang turun dimarih....
Padalarang town
Padalarang Town
Rangkaian kricak
Dulu ada yang parkir di sini, tapi sekarang udah pindah :(
Siapan Langsir
Stay 1500-an :v
Tampak kejauhan jalur cabang menuju Jakarta dan Cianjur
Name-Tag stasiun Padalarang
Renovasi stasiun Padalarang
Lobby stasiun Padalarang
Masih direnovasi
Awas naik...!!!!
Debu-debu dari tukang yang merenovasi cukup mengganggu pendangan saya untuk memotret. Lalu ada pengumuman dari PPKA, KA Dinas masuk jalur 2 nah, kira-kira apa nih yang masuk. Eh ternyata KLB Kricak dan uniknya lagi, itu kereta jalannya mundur, langsung deh potret dan tadaaaa.....

KLB Kricak dari lintas Cianjur, jalannya mundur loo... :v
Setelah sekitar 20 menit beristirahat kereta kembali diberangkatkan. Perjalanan kali ini tidak berbeda jauh dengan sebelumnya. Kondisi kereta mlopong atau glondangan. Namun ketika masuk stasiun Cimahi dan Ciroyom, mulai banyak yang naik.
Ditutup looo.... :D

KRD Patas non AC
KRD Patas non AC
interior KRD Patas non AC
KA Petikemas tujuan Gedebage



Stasiun Bandung sebelah utara
Stasiun Bandung sebelah utara
Monumen lokomotip depan Kantor Pusat KAI
Kantor Pusat KAI

Evergreen
Masih 1500an
Sesampainya di Bandung saya turun dan keluar menuju masjid (apa ya lupa namanya, lokasinya dekat viaduk depan kantor pusat) untuk Sholat Jumat. Setelah sholat jumat, menikmati santapan makan siang berupa siomay asli dari kotanya, hehehe... lalu sembari menunggu waktu, saya lanjutkan hunting keliling stasiun Bandung. Sampai pada pukul 14.00 an saya kembali masuk stasiun dengan membeli tiket 1500an lagi untuk pergi ke Cimahi. Ketika di dalam, Alfie sms saya untuk melanjutkan perjalanan ke Cimahi, karena saya akan langsung dijemput di stasiun Bandung, hhhmmm ok lah. Setelah menunggu, akhirya jemputan saya datang.
Kissing on the bridge... :3

Emplaseman Stasiun Bandung
Pusdiklat KAI
Masih 1500an
Turntable
Dipo kereta Badnung, tampak kejauhan stasiun Ciroyom
Emplasemen stasiun Bandung
Antrian penumpang 1500an....
KA Serayu tujuan JakartaKota
Pinjem rangkaiannya TawangJaya
Kiranya batik, eh ternyata tulisan biasa bacanya DAOP 4 .... -_-"
Nah.... ini pinjem punya siapa nih? kalo ga Logawa 
Nampak Argo Parahyangan dari kejauhan
Jalan-jalan Bandung 

Esok hari, saya berjalan-jalan dengan Alfie keliling kota Bandung. Hhmm kali ini benar-benar saya maksimalkan waktu untuk explore meski sebenarnya kurang tapi bagi saya sudah cukup lah. Mengungjungi UPI, ITB, Darut Tauhid, Lembang dengan sejuta pemandangan yang khas. Puas banget rasanya bisa explore tempat-tempat menarik di Bandung ini. Melintasi jembatan Pasupati yang bentuk designnya menyerupai jembatan Suramadu (atau Suramadu yang menyerupai Pasupati yah??). Makan siang dengan pasta ala Europe (halah). Dan satu hal yang membuat saya terkesan adalah misi saya mengabadikan gerbong terjebak di daerah Jl. Turangga telah berhasil. Gerbong tersebut adalah sisa masa kejayaan jalur cabang Kavaleri – Cikudapateuh – Pindad dan sesuai rencana. Puas banget rasanya.
Bangunan PJL yang khas
Kira-kira ini bangunan apa yaa???
Add caption

Jalur non-aktif Kavaleri - Cikudapateuh - Pindad

Stasiun Cikudapateuh

Setalah itu membeli oleh-oleh di Pasar Kosambi. Ada banyak macam-macam oleh-oleh yang dapat dipilih. Yang paling populer adalah kripik Oncom, tak lupa wajit karena emak saya sangat suka banget dengan wajit. Terispirasi beberapa tahun yang lalu saya belikan wajit ketika mengunjungi saudara di Cikampek. Setelah puas belanja dan jalan-jalan maka saya putuskan untuk kembali.

Waktu menunjukkan pukul 14.00, alamaaakkk.... kereta berangkat 30 menit lagi dan saya masih di Cihanjuang. Langsung si Alfie bermanouver mengantarkan saya ke stasiun Bandung. Rasa was-was dan deg-deg an, cemas, dan bingung babar bah semua campur aduk jadi satu. Dan tepat 14.25 saya mendarat di pintu selatan stasiun Bandung. Langsung berpamitan dan menuju boarding past. Karena panik dan gugup saya gemetar mengeluarkan tiket. Ketika petugas boarding hendak mengizinkan saya masuk semboyan 35 disuarakan. Huaaaa,,,,,, saya langsung berlari menuju jalur 6, padahal jalur 3 ada KA yang akan berangkat ke arah timur, saya langsung nekat menyebrang. Tampak kereta sudah mulai bergerak, langsung saya teriak ke PAP, “Pak tolong saya penumpang ketinggalan”. Seketika PAP menggedor pintu kereta dan akhirnya terbuka. Lalu sang PAP berteriak pula “lewat sini, Pak” ketika mendekat saya langsung melompat dan hupp... Alhamdulillaaahh.... saya berhasil naik ke kereta. Kemudian saya langsung duduk dan mengambil nafas panjang serta menenangkan pikiran. Fiiuuuhhh.... untung saja, padahal saya adalah pelanggan pertama yang membeli tiket tersebut. Sempat terbayang kengerian hingga sekarang (tulisan ini dibuat) kejadian aneh-aneh yang mungkin terjadi, mulai saya terpeleset, barang bawaan jatuh berantakan yang semua itu membuat saya ketinggalan kereta. Namun syukur Alhamdulillah lah saya masih bisa selamat mengejar kereta tersebut.

Bumi Parahyangan Barat

Lepas stasiun Padalarang, jeng jeng.... ini dia moment yang saya tunggu tunggu. Pemandangan DAOP 2 sebelah barat. Ada beberapa spot yang membuat saya terkesan dan rasa ngeri seketika hilang. Antara lain berbagai macam tikungan tajam, sehingga saya bisa melihat lokomotip dan rangkaian meliuk tanpa harus mbordes. Karena posisi saya merupakan jaacot tersendiri, duduk di dekat jendela yang lebar, sehingga saya bisa melihat pemandangan yang memukau dengan puas. Selain itu, tak terasa KA bersilang dengan KA yang sama (sesama Argo Parahyangan) di stasiun Sasaksaat. Ini artinya sebentar lagi akan melintas terowongan legendaris DAOP 2 yaitu Sasaksaat, lansung deh saya ambil posisi dan mengabadikannya dalam bentuk video. Setelah itu melintasi banyak sekali jembatan yang saya mungkin kurang tau nama-namanya, heheh.antara lain yang saya tau sih jembatan Cikubang, Cisomang, Cimeta dan ci ci yang lain. Tampak juga pesaing berat kereta lintas Bandung – Jakarta, yaitu jalan Tol Cipularang yang membentang kokoh beriringan dengan jalur kereta.
Ciroyom lagii... D
Percabangan menuju Cianjur 
Percabangan menuju Cianjur




 


Tol Cipularang
Tol Cipularang
Teman perjalanan saya ^_^



Stasiun Cilame

Jembatan yang akan dilalui

Jembatan yang telah dilalui
Masih Tol Cipularang
Masih Tol Cipularang
Masih Tol Cipularang


Hanya mereka yang berani GAGAL dapat meraih KEBERHASILAN
Stasiun Cikadongdong



Jalur baru
Jalur baru
Sejenak kereta berhenti diluar jadwal atau BLB di stasiun Plered dan Sukatani. Di petak sini kereta melaju semakin kencang, hingga kereta sampai di stasiun Purwakarta. Disini tampak bekas kereta yang hangus terbakar ketika tragedi Rangkasbitung beberapa waktu lalu. Semakin cepat kereta melaju maka tak terasa sudah sampai di stasiun Cikampek.

BLB di Plered
BLB di Plered
Langit Plered waktu itu
Makan yuks... :3

BLB lagi di Sukatani, eh yang ini langsam denk....
nonton cepul... :3
Leaving Sukatani... :'3
Purwakarta town
Purwakarta Town
Stasiun Ciganea
Memasuki stasiun Purwakarta
Bekas kereta yang terbakar pasca insiden Rangkasbitung... :'(

Stasiun Cibungur
Cibungur Dry Port
Kramat Djati
Memasuki Cikampek
Cikampek
Cikampek
Sampailah saya di jalur raya. Semua kereta tujuan Jakarta dari timur maupun sebaliknya melintas di jalur ini. Kembali saya bersilang dengan berbagai kereta yang saya tidak hafal karena melesat cepat di double track. Tibalah KA di pintu gerbang LAA yaitu stasiun Bekasi. Ini artinya kereta sudah memasuki lintas padat kereta tampak beberapa kaleng (KRL) melintas berlawanan arah.
Cikarang Dry Port
Bus Transjakarta gandeng.... :3
Antri..... >.<
Sesampainya di Jatinegara, suasana stasiun tampak ramai dan sibuk. Bahkan sebelum masuk pun sudah ada antrian kereta di belakang, wadaww.. lepas Jatinegara sampailah saya di percabangan super stasiun Manggarai dimana stasiun ini memiliki tingkat kerumitan wesel dan merupakan salah satu stasiun yang melayani 4 percabangan, menuju Jatinegara, Bogor, Tanahabang, dan Gambir. Dengan perlahan kereta melintas langsung dan naik ke jalur layang. Setelah melintas Cikini dan Gondangdia, tibalah saya di stasiun Gambir. Alhamdulillah, selamat sore Jakarta, selamat sore Monas, kebetulan lagi ada event tuh. Setelah turun saya langsung disambut dan dengan teman seperjalanan saya, Seto yang datang lebih awal menggunakan KA Argo Lawu. Setelah puas memotret dan beristirahat, saya langsung menuju masjid Istiqlal untuk sekedar melaksanakan kewajiban dan istirahat.
Lepas Jatinegara
Tikungan Jatinegara dan Dipo Lokomotip
ups... interior Argo Parahyangan-nya.... looks comfort kan.... :3
Evening Monas
Panturaan Malam

Setelah selesai istirahat, kembali saya menuju Gambir untuk melanjutkan perjalanan pulang menggunakan KA nomor 4 se-Indonesia Raya, yups Argo Bromo Anggrek. Dan betapa terkesannya saya ketika melihat rangkaian masuk menggunakan rangkaian kebanggaan KA tersebut yaitu kereta bersuspensi udara atau dalam bahasa railfans “sepur bogie K9”. Langsung saya ambil posisi sesuai tempat duduk. Dan betapa terkejutnya saya, bahwasanya kereta ini TERNYATA... tak seindah namanya... T.T kondisi kereta yang sudah tua, ruangan yang gloomy (remang-remang) dan suhu yang sedikit lembab. Aduh, mungkin sesuai dengan tarif yang saya bayar kali ya.
Night Gambir
Name tag KA Argo Anggrek
Stabling on first line of Gambir
Interior KA Argo Bromo Anggrek
Tepat pukul 21.30 KA diberangkatkan dari jalur 1 stasiun Gambir. Belum sempat menikmati perjalanan, bahkan belum keluar dari Jakarta. Seto mengajak saya untuk makan di restoran. Sekali lagi saya dibuat terkejut. Harga yang benar-benar fantastis untuk makanan selevel kereta Argo. Sepanjang perjalanan saya hanya bisa duduk termenung karena perjalanan malam, tidak bisa melihat dunia luar. Guncangan kereta semakin aduhai, membuat saya mengantuk, dan jadilah saya tertidur sepanjang perjalanan. Bangun-bangun, sudah sampai di SemarangTawang. Sedikit yang turun dari kereta ini dan sedikit pula yang naik.

Semarang Tawang
Tuh kan, sepi.... @_@
Akhirnya saya melanjutkan kebiasaan saya (baca: tidur) karena cukup merasa bosan dengan keadaan di dalam. Ketika terbangun sudah sampai di Cepu, itu pun masih gelap. Jadi saya menghabiskan waktu dengan menelfon teman saya Abi yang sudah janjian ketemu di Surabaya. 
Sesampianya di Bojonegoro, dimana hari sudah mulai terang, sudah nampak pemandangan khas pantura, tapi sebelah timur. Sebenaranya beberapa kali bersilang dengan lokomotip yang cukup mainstream di dunia RF akhir – akhir inim yaitu CC 206. Namun apa daya, karena cukup males juga dan kereta berjalan dengan kecepatan tinggi, jadi tidak sempat buat motret.

Harjay lewat sini (?)


Tak lama kemudian, sampailah di check point berikutnya yang saya nanti – nantikan, yakni stasiun Kandangan, dimana terdapat jalur cabang menuju Gresik yang baru saja mengalami pemugaran dan pengaktifan kembali. Dan akhirnya tepat sesuai jadwal pukul 07.10 saya mendarat resmi di stasiun Surabaya Pasarturi. Kembali saya langsung memotret lingkungan sekitar dan istirahat sejenak.

Percabangan menuju Gresik
Siap langsir
Udah dilepas
Rangkaian Kertajaya
Madura Membahana, Pulang Naik Mutiara.

Setelah mandi dan istirahat sejenak, kami (saya dan Seto) melanjutkan perjalanan untuk sarapan dulu, sembari menunggu kawan saya Abi.
Monumen lokomotip depan stasiun Surabaya Pasarturi
Setelah beberapa saat, Abi pun muncul dan kami saling bercerita satu sama lain (seperti biasa laah, menanyakan kabar dan bla bla bla... :v ). Karena kereta berikutnya masih nanti sore jam 5, maka kami bertiga memutuskan untuk pergi melayang ke Madura. Dengan angkot kami pun meluncur menuju pelabuhan Ujung dan membeli tiket kapal laut di sana. Hhhmmm.... cukup rame juga pelabuhannya. Dan terkesan selat Madura tidak seperti laut tapi lebih menyerupai sungai (padahal udah jelas banget itu laut :v). Karena sepanjang selat dipenuhi kapal – kapal barang yang antri dan arus selat yang tidak begitu berombak, tidak seperti selat Bali dan selat – selat yang lain.
Antrii.....
Kapal penyeberangannya.... 
Deretan kapal dan perahu di sungai Kalimas
Masyukk..... :D
Mini....





Sampai deh di Madura... :D
Yaaahh... perjalanan ke Madura yang cukup menyebrang kemudian kembali lagi cukup unik juga. Puas memotret dan berkeliling, kami putuskan untuk sekedar istirahat dan sholat di masjid dekat terminal Ujung. Selanjutnya kami langsung menuju Delta Plaza untuk sekedar “ngadem” dan makan siang, ya sekalian cuci mata juga heheh.... :p. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 14.30, time to go home.... :’) eh sempet sempetnya mampir ke monumen kapal selam Pasopati. Yaah... Cuma sebentar jugak masalah sih. Pukul 15.00 kami berpisah dengan Abi, yang kembali ke Malang. Sialnya kami harus memutar ke pintu timur. Lumayan jauh juga tuh, tapi apa boleh buat. Mampir dulu lah ke PJL 8, banyak juga eh ternyata RF yang hunting di sini. Puas hunting sejenak, meski cuma dapet Donat hehehe, lanjut deh boarding di stasiun Gubeng Baru, pas banget keretanya datang.


KA RApih Ndoho... :D
KA Penataran... :D
KA Mutiara Selatan masuk jalur 6
Interiornyaaa.... :D
Yapz bener banget, perjalanan saya akhiri dengan pulang menggunakan KA Mutiara Selatan. Ketika itu bersamaan masuk KRD SUSI dari Sidoarjo tujuan Surabaya Kota, dan waktu mood saya sudah habis dan ingin tidur sepanjang perjalanan rasanya. Memang benar, kondisi kereta yang sejuk dan di luar sedang hujan, sangat mendukung buat tidur karena energi sudah terkuras habis. Sepanjang perjalanan hanya saya habiskan untuk tidur, ya karena memang benar-benar capek dan puas sih. Akhirnya pukul 21.45 mendarat di Stasiun Yogyakarta tercinta...
Nyampe deh di Yogyakarta
Nyampe deh di Yogyakarta.... Alhamdulillah... :D
Alhamdulillah, demikian trip repot yang lumayan melelahkan. Adapun penilaian saya terkait layanan KA yang menemani perjalanan saya. Yang pertama KA Turangga 37:
- Telat karena imbas anjlog-an di Garut
- AC yang hangat ~,~ kursi yang sempit dan kurang begitu nyaman untuk tidur,
- MOD yang cepat tanggap dalam menanggapi keluhan penumpang,
- Jam yang sangat cocok untuk menikmati panorama Jawa Barat di pagi hari,
- Salut dengan crew yang menyuarakan Adzan Subuh untuk membangunkan penumpang.
Selanjutnya penilaian KA Argo Parahyangan 25:
- Merupakan KA ternyaman dalam perjalanan kali ini,
- Kodisi interior yang terawat dengan baik, dan seat yang nyaman,
- Jadwal yang sangat pas untuk menikmati panorama yang disuguhkan sepanjang perjalanan,
- Manu Reska yang terjangkau
- Crew yang ramah dengan penumpang.
Lalu untuk KRD Ekonomi 1500an :
- Seru buat sekedar joyride, mungkin hanya pada jam – jam terntentu,
- Banyak pedagang yang semakin melengkapi perjalanan,
- Penumpang yang sangat friendly,
- Diem-diem nih KA tepat waktu loo...
Untuk KA Argo Bromo Anggrek 4, jangan keburu kecewa yah...
- Goncangan yang aduhai, benar-benar “membutakan” saya dari kemilau nama dan brandnya,
- Menu reska yang membuat shock sesaat, bandingan harga dan hasil hidangannya,
- Kondisi interior yang sudah uzur, banyak cacat, AC yang cukup lah, ruangan yang sintrung atau gloomy
- Crew yang ramah dan sedikit ceroboh, karena sempat menaruh menu makanan di seat yang tidak imbang sehingga jatuh.
- Ketepatan waktu OK
Sedangkan untuk KA Mutiara Selatan,
- Sejuk, nyaman.
- Ga terlalu banyak comment lah, yang jelas enak buat istirahat, dan sampai ditujuan dengan selamat :p.
Well itulah perjalanan saya selama tiga hari. Cukup melelahkan tapi sangat sangat dan sangat memuaskan. Saya benar-benar bisa menikmati keindahan alam Jawa Barat dan mengagumi karya Allah yang begitu luar biasa. Special thanks to kawan saya di Cimahi, Alfie Aditya yang telah mengizinkan saya menginap dan mengajak saya jalan-jalan keliling Bandung, PAP stasiun Bandung yang memberikan saya akses untuk naik KA Argo Parahyangan yang sudah berangkat, Seto, Abi yang telah menemani dan melengkapi perjalanan saya sehingga joiride saya semakin seru dan mengasyikkan. Terimakasih telah menyimak trip repot saya, dan nantikan trip repot saya yang lebih waw.. lagi pastinya... :D
See you next time, wassalaamualaikum.... :) (wise)